Fenomena domba pindah kandang, saya sebut fenomena karena terjadi di semua denominasi gereja, semua kota, propinsi bahkan diseluruh penjuru dunia. Hal ini cukup menarik dan sering menjadi pembicaraan seru dalam berbagai acara pertemuan hamba-hamba Tuhan, baik dalam sidang Majelis Daerah, dalam Seminar hamba-hamba Tuhan, dalam forum diskusi ataupun dalam acara ngobrol diantara para hamba Tuhan. Karena itu saya lontarkan beberapa sudut pandang pemikiran dan pemantauan saya mengenai hal ini.


1. Pekerjaan roh jahat, roh pemecah

Allah adalah kasih, dan kasih itu menyatukan, mengikat persaudaraan, kasih itu menutupi kesalahan orang. Yesus berdoa supaya murid-Nya menjadi satu. Karena itu semua pekerjaan yang berlawanan dengan kesatuan, seperti perpecahan, percideraan, pertengkaran adalah perbuatan perbuatan roh-roh jahat. Dalam kasus Ayub, domba-domba Ayub yang berpindah kandang ke orang Kasdim dan orang Syeba, memang seizin Tuhan, tetapi yang melakukan adalah Iblis. Iblis setelah mendapat izin Tuhan, lalu undur dari hadapan Tuhan dan baru semua peristiwa terjadi. Pelakunya memang orang Kasdim dan orang Syeba, tetapi mereka melakukan hal itu karena dirasuki roh-roh jahat anak buah iblis. Iblis yang punya rencana jahat, ide jahat dan perbuatan jahat.

2. Pekerjaan Kedagingan Manusia

Paulus menulis dalam Galatia 5:19-21 “bahwa perbuatan daging telah nyata yaitu; perpecahan dan percideraan….”

Pertengkaran, perpecahan yang salah satu bentuknya adalah domba pindah kandang, karena kedagingan. Salah satu sebab dan alasan mengapa pindah gereja sebenarnya adalah kedagingan. Daging manusia yang lemah, mudah ngambek, mudah tersinggung, tidak mau ditegor, tidak mau dididik dan dibentuk karakternya, maunya hanya mendengar Firman yang menyenangkan telinganya, mencari gereja dan pendeta atau gembala yang memuaskan telinganya. Dikota-kota, fenomenanya bukan gembala besoek dan PI Pribadi mencari jiwa, tetapi jiwa-jiwa mencari gembala yang disukainya, dan pindah kegereja lain jika sudah bosan, seperti orang pergi ke restoran.

“Karena akan datang waktunya, orang tidak lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.” 2 Timotius 4:3

Setiap orang perlu untuk tertanam di sebuah gereja lokal, walaupun dia melayani antar gereja, memimpin yayasan atau persekutuan, karena dengan demikan karakternya bisa dibentuk, ada otoritas diatasnya, belajar memimpin tetapi juga dipimpin dengan demikian mengurangi kemungkinan menjadi sesat atau benar sendiri.

3. Seijin Tuhan

Belajar dan menggunakan kasus Ayub (Ayub 1:6-17) sebagai ilustrasi kasus gereja atau masalah penggembalaan dalam pelayanan, memang sangat jelas bahwa semua itu terjadi karena SEIJIN TUHAN.

Jangan menjadi orang Kasdim dan Syeba yang diperalat iblis. Kesesatan memang harus ada, tetapi celakalah yang membuat kesesatan. Jangan kecewa kalau engkau mengalami seperti yang dialami Ayub (dombanya pindah, bahkan dirambok gembala lain), dan jangan marah dengan Tuhan. Jangan kecewa dan mengutuk orang lain, mengutuk gereja lain yang dombanya banyak karena pindahan dari kandangmu. Jangan mengutuk, tetapi bergumul dan carilah kehendak Tuhan, mengapa itu diijinkan, mari kita renungkan untuk mencoba mengerti beberapa alternatif mengapa Tuhan ijinkan?

a. Membentuk persekutuan dan specialisasi

Tuhan bisa saja mengijinkan domba pindah kandang, sehingga akhirnya orang-orang dengan visi yang sama berkumpul, orang-orang menjadi akrab dan sehati karena memiliki beban pelayanan yang sama, memiliki tujuan yang sama. Pengelompokan domba pada pelayanan serupa, karena memang pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang akan mengelompok sesuai dengan kesamaan-kesamaan yang dimiliki, termasuk dalam visi, pandangan, cara menafsirkan, dogma, ajaran. Pengelompokan visi serupa menimbulkan dampak persekutuan yang lebih erat, dan orang berkumpul dengan suka-cita.

b. Segmentasi pelayanan

Akhir-akhir ini tumbuh persekutuan dimana-mana, di sekolah, di kampus, di kantor, para wanita membuat persekutuan wanita, para pengusaha membuat persekutuan pengusaha, para cendekiawan membuat persekutuan cendekiawan. Pengelompokan semacam ini secara positif baik, sehingga hamba Tuhan bisa memberitakan firman secara fokus, untuk bidang-bidang riil yang digumuli jemaat. Jemaat bertumbuh karena mendapat pelajaran yang berhubungan dengan hidup mereka secara langsung.

Gejala serupa bukan hanya dalam persekutuan, tetapi juga ternyata dalam gereja. Orang-orang dengan kesamaan suku berkumpul dan membangun jemaat sendiri. Kalau gembala sidangnya Manado, singersnya Manado, Diakennya Manado dan jemaatnya Manado. Hal yang sama kalau jemaatnya Tiongha, Jawa atau Batak. Dengan demikian, hamba Tuhan bisa berbicara details, ditangkap dengan baik, sehingga tingkat efisiensi tinggi sekali. Dalam penginjilan memang misi itu lintas budaya. Tetapi jka saya berfikir dalam penanaman gereja, dalam pengembangan gereja, dalam penggembalaan jemaat, maka memang akan sangat efektif jika kita melayani orang se-suku dengan kita.

Kita sangat mengerti kondisi, kebiasaan, pantangan, ocultisme yang terlibat, kekurangan dan kelebihan, singkatnya kita memahami budaya, sosial, ekonomi, kondisi menyeluruh suku kita sendiri, dengan demikian kita mempunyai banyak cara-cara pelayanan yang kontekstual, yang bisa diterima sehingga bisa memenangkan banyak jiwa, bahkan mengajar dan menumbuhkan jemaat dengan sangat baik.

Ada kemungkinan Tuhan memang mengijinkan domba perpindah kandang, sehingga akhirnya terjadi pengelompokan (segmentasi), baik karena latar belakang suku, ekonomi, budaya, profesi sehingga setiap domba terlayani dengan baik dan penginjilan berkembang di kelompok tersebut.

c. Semacam jenjang pertumbuhan

Saya melihat ada gereja yang sangat efektif memenangkan jiwa jiwa baru, ini semacam gereja TK atau SD (bukan berarti lebih rendah rohaninya, hanya dalam hal fungsi seperti merekrut murid di tahap awal). Namun gereja tersebut sangat lemah dalam pengajaran dan pemuridan. Jemaat segera mencapai kejenuhan, kebosananan dan merasa tidak bertumbuh, lalu berjumpa dengan domba lain yang satu angkatan pertobatannya, tetapi kerohaniannya jauh lebih maju. Domba ini pindah kandang ke gereja lain, dan merasa mendapat banyak berkat. Gereja berikutnya Tuhan pakai semacam sekolah SMP atau SMA bahkan Perguruan Tinggi yang memang mampu mengajar dan mendewasakan jemaat dengan baik.

Saya melihat banyak gereja yang cakap mengajar jemaat dalam kelas-kelas pendalaman Alkitab yang sangat sistematis, jemaat mengerti dengan baik berbagai pelajaran Alkitab mulai keselamatan, awal jaman, akhir jaman, tabernakel, malaikat dan sebagainya. Namun saya masih melihat ada perpindahan domba dari gereja semacam itu ke gereja lain dalam jumlah banyak. Saya terus bertanya mengapa dan ke gereja jenis apa lagi?

Saya melihat ada gereja yang efektif memberdayakan jemaat terlibat dalam pelayanan. Ini semacam gereja yang menyalurkan tenaga kerja setelah mereka lulus sekolah. Ada banyak jemaat yang sudah pendalaman Alkitab dan pendalaman Alkitab, berdoa dan berdoa tetapi tidak juga dilibatkan dalam pelayanan-pelayanan lainnya. Begitu dia pindah kandang ke gereja tertentu dengan cepat melesit dari Song Leader, jadi pengkotbah, jadi ketua FA, jadi gembala ranting dsb. Memang ada gereja yang sangat bagus penata layanannya, managementnya yang mampu melibatkan banyak orang dalam pelayanan. Domba bertumbuh bukan karena belajar tetapi karena melayani, karena aktif dan berbuat sesuatu. Ada gereja yang punya kemampuan menumbuhkan orang dan melibatkan orang dalam pelayanan bahkan menjadikan mereka para ‘full time’, memanggil dan menantang orang melayani dan menempatkan mereka dalam pelayanan secara bagus sekali.

Kalau kita mengasihi domba dan bukan mengasihi diri sendiri, bukan mengasihi organisasi gereja kita, seharusnya kita bangga kalau ada domba yang bisa maju di kandang lain yang punya Tuhan juga, seperti bangganya seorang guru SD melihat muridnya menjadi juara di sekolah SMP bahkan sukses dimasa depan mereka. Orang yang sukses juga semestinya tidak meremehkan dan menghina guru SD-nya kecuali orang yang tidak tahu balas budi. Kita tidak bisa menghapus sejarah dibelakang kita. Kita menjadi seperti ini karena peran orang tua kita yang melahirkan, guru TK kita, guru SD dan seterusnya, demikian juga dalam hal kerohanian kita, semua yang kita alami Tuhan telah ijinkan, atur dan merubahnya menjadi kebaikan atas diri kita.

Ada yang menabur, ada yang menyiram, ada yang menuai, ada yang menikmati gandumnya, semuanya sama-sama bersuka cita. Semua diperlukan pada waktu dan tujuan tertentu untuk membangun Tubuh Kristus, untuk membangun pribadi-pribadi, membangun ‘bait Roh Kudus’’. Tiap gereja seperti satu anggota tubuh dengan fungsi yang khusus.